Subscribe

Powered By

FLIGHT SUMMER

Senin, 20 Oktober 2008

PTN DI INDONESIA

PT Negeri di Indonesia
MONDAY, 20 OKTOBER 2008
Sumatera

Nanggroe Aceh Darussalam

* Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
* Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe
* Politeknik Negeri Lhokseumawe, Lhokseumawe

Sumatera Utara

* Universitas Sumatera Utara, Medan
* Universitas Negeri Medan, Medan
* Politeknik Negeri Medan, Medan

Sumatera Barat

* Universitas Andalas, Padang
* Universitas Negeri Padang, Padang
* Politeknik Negeri Padang, Padang
* Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Payakumbuh
* Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang, Padang Panjang

Riau

* Universitas Riau, Pekanbaru

Kepulauan Riau

* Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH)

Jambi

* Universitas Jambi, Jambi

Bengkulu

* Universitas Bengkulu, Bengkulu

Sumatera Selatan

* Universitas Sriwijaya, Palembang
* Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang

Lampung

* Universitas Lampung, Bandar Lampung
* Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung
* Akademi Penilik Kesehatan Lampung, Bandar Lampung
* Akademi Perawat Kesehatan Lampung, Bandar Lampung

Jawa

Banten

* Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang

DKI Jakarta

* Universitas Indonesia
* Universitas Negeri Jakarta
* Universitas Terbuka
* Politeknik Negeri Jakarta
* Politeknik Tugu Jakarta
* Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jawa Barat

* Universitas Padjadjaran, Bandung
* Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
* Institut Pertanian Bogor, Bogor
* Institut Teknologi Bandung, Bandung
* Politeknik Manufaktur Bandung, Bandung
* Politeknik Negeri Bandung, Bandung
* Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, Bandung

Jawa Tengah

* Universitas Diponegoro, Semarang
* Universitas Negeri Semarang, Semarang
* Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
* Universitas Sebelas Maret, Surakarta
* Politeknik Negeri Semarang, Semarang
* Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, Surakarta

DI Yogyakarta

* Universitas Gadjah Mada
* Universitas Negeri Yogyakarta
* Institut Seni Indonesia Yogyakarta
* Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
* Universitas Teknologi Yogyakarta

Jawa Timur

* Universitas Airlangga, Surabaya
* Universitas Negeri Surabaya, Surabaya
* Universitas Brawijaya, Malang
* Universitas Negeri Malang, Malang
* Universitas Jember, Jember
* Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura
* Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
* Politeknik Negeri Jember, Jember
* Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Surabaya
* Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya
* Politeknik Negeri Malang, Malang

Bali dan Nusa Tenggara

Bali

* Universitas Udayana, Denpasar
* Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja
* Politeknik Negeri Bali, Kuta-Badung
* Institut Seni Indonesia Denpasar, Denpasar

Nusa Tenggara Barat

* Universitas Mataram, Mataram
Nusa Tenggara Timur
* Universitas Nusa Cendana, Kupang
* Politeknik Negeri Kupang, Kupang
* Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Kupang
Kalimantan
Kalimantan Barat
* Universitas Tanjungpura, Pontianak
* Politeknik Negeri Pontianak, Pontianak
Kalimantan Tengah
* Universitas Palangka Raya, Palangka Raya
Kalimantan Selatan
* Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin
* Politeknik Negeri Banjarmasin, Banjarmasin
Kalimantan Timur
* Universitas Mulawarman, Samarinda
* Politeknik Negeri Samarinda, Samarinda
* Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Samarinda
Sulawesi
Sulawesi Utara
* Universitas Sam Ratulangi, Manado
* Universitas Negeri Manado, Manado
* Politeknik Negeri Manado, Manado
Gorontalo
* Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo
Sulawesi Tengah
* Universitas Tadulako, Palu
Sulawesi Selatan
* Universitas Hasanuddin , Makassar
* Politeknik Negeri Makassar, Makassar
* Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan, Pangkajene Kepulauan
* Universitas Negeri Makassar, Makassar
Sulawesi Tenggara
* Universitas Haluoleo, Kendari
Maluku dan Papua
Maluku
* Universitas Pattimura, Ambon
* Politeknik Negeri Ambon, Ambon
* Politeknik Perikanan Negeri Tual, Tual
Maluku Utara
* Universitas Khairun, Ternate
Irian Jaya Barat dan Papua
* Universitas Cendrawasih, Jayapura
* Universitas Negeri Papua, Manokwari

EYD

1. Ejaan van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut.
Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma'moer, 'akal, ta', pa', dinamai'.
2. Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.
3. Ejaan Melindo
Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.
4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.1. Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi
Ejaan yang Disempurnakan
dj
djalan, djauh
j
jalan, jauh
j
pajung, laju
y
payung, layu
nj
njonja, bunji
ny
nyonya, bunyi
sj
isjarat, masjarakat
sy
isyarat, masyarakat
tj
tjukup, tjutji
c
cukup, cuci
ch
tarich, achir
kh
tarikh, akhir
2. Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.
f
maaf, fakir
v
valuta, universitas
z
zeni, lezat
3. Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai
a : b = p : q Sinar-X
4. Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
di- (awalan)
di (kata depan)
ditulis
di kampus
dibakar
di rumah
dilempar
di jalan
dipikirkan
di sini
ketua
ke kampus
kekasih
ke luar negeri
kehendak
ke atas
5. Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.
anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat

Minggu, 12 Oktober 2008

MENCARI SESUATU YANG HILANG

Terdengar bunyi letusan. Tepat ketika aku sedang berada di kolong tempat tidur mencari sesuatu yang mungkin terjatuh tadi malam. Sesuatu itu telah kugenggam tadi malam. Juga telah kusimpan. Aku ingat aku telah menyimpannya. Pagi ketika aku terjaga sesuatu itu menghilang. Aku mencarinya di bawah kolong tempat tidurku. Bunyi letusan itu mengejutkanku. Membuat kepalaku terantuk ranjang. Kuraba bagian kepalaku yang terasa sakit. Tidak ada darah. Hanya rasa sakit, tak lama lagi pasti akan muncul benjolan.
Aku masih dibawah kolong tempat tidur. Mencari milikku yang telah kugengam tadi malam. Suara kakakku mengejutkanku, menanyakan apa yang sedang kucari. Aku tidak mendengar langkah kakinya menaiki tangga. Aku juga tidak mendengar ketika ia membuka pintu kamarku. Telingaku menjadi tuli karena aku mencari sesuatu yang tadi malam telah kupegang. Kepalaku juga telah terantuk untuk kedua kalinya gara-gara aku mencari sesuatu yang hilang tadi malam.
Setelah sekian kali aku mencari di kolong tempat tidur itu dan tak juga ketemu. Aku menjadi ragu. Benarkah ia jatuh tadi malam. Mungkinkah ia menghilang melalui jendela dan kini entah berada dimana. Aku harus sudahi pencarian di kolong tempat tidur. Jika kuteruskan mungkin akan ada lebih dari dua benjolan di kepalaku. Aku mandi dan kemudian pergi. Berharap kutemukan milikku di suatu tempat.
Aku mulai dari gang-gang sempit, becek dan sedikit bau. Aroma masakan tercium dari rumah-rumah yang kulalui. Para ibu pasti sedang mempersiapkan sarapan buat anaknya yang sekolah dan suaminya yang akan berangkat kerja.
Di sebuah warung di mulut gang aku berhenti. Memesan teh hangat dan nasi pecel. Dua orang laki-laki telah ada di situ. Di hadapan mereka dua piring bekas nasi pecel. Secara tak sengaja mata kami beradu. Aku tersenyum. Demikian pula dua orang laki-laki itu. Mereka tersenyum kepadaku.
Tak lama kemudian kami telah terlibat pembicaraan yang sama-sama membuat kami nyaman. Tanpa sadar kuceritakan tentang sesuatu yang menganggu hatiku. Tentang milikku yang tiba-tiba hilang setelah aku yakin telah memegangnya. Dua orang itu serius memperhatikan setiap kata yang kuucapkan. Dan akhirnya dengan sadar kuceritakan semua tanda yang pernah kuterima. Tentang sebuah simbol yang tiba-tiba muncul dalam tidurku. Tentang sebuah keyakinan dan keinginan yang kuat. Sebegitu kuatnya sehingga aku tak sanggup lagi memikulnya sendirian.
Mereka mengatakan ada hutan di daerah selatan. Mereka menyebutnya Alas Purwo. Mereka menyuruhku untuk pergi ke sana. ”dalam kesendirian semua pertanyaan akan terjawab” kata mereka. Aku tidak mempercayai hal itu. Atau lebih tepatnya aku tidak ingin mempercayainya karena aku tidak ingin pergi terlalu jauh. Aku katakan kepada mereka bahwa tidak mungkin dalam waktu satu malam milikku telah berada di tempat yang sangat jauh. ”ia tidak berjalan. Ia pergi bersama angin” kata mereka.
Aku bersiap-siap untuk meninggalkan warung itu. Mereka meminta waktuku beberapa menit dan mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa memegangnya. ”bukan begitu cara untuk memilikinya” kata mereka.
Kutinggalkan dua orang itu. Aku berjalan di trotoar. Udara terasa pengap, bau asap, comberan. Teriakan para kernet. Bunyi klakson mobil yang terus berbunyi, seolah-olah dirinya orang yang paling penting yang harus segera diberi jalan. Kota besar memang selalu seperti ini. Menyesakkan dan sedikit memuakkan. Tak peduli pagi, siang atau malam.
Aku berdiri di halte, seperti orang-orang yang lain. Ketika orang-orang itu naik bis kota, aku juga ikut naik. Di dalam bis hampir semua kursi telah terisi. Aku bersama orang-orang yang tadi telah berdiri di halte, kini harus terus berdiri di dalam bis kota. Di halte kami mencium aroma comberan, di dalam bis kota kami mencium aroma keringat dan kejahatan para tukang copet. Beberapa saat kemudian seseorang di dekatku berteriak. Mobil berhenti. Orang itu turun dan aku mengantikan tempat duduknya. Di sampingku seorang perempuan. Ia memakai kaos ketat berwarna kuning. Dadanya besar. Sangat besar bahkan. Ketika aku duduk ia tersenyum kepadaku dan aku membalasnya. Sepertinya ia bisa menjadi perempuan yang menarik jika berada ditangan yang tepat, atau jika ia tahu bagaimana membuat dirinya menarik. Barangkali ia pikir dengan memakai kaos ketat ia telah cukup menarik. Sepertinya ia baru datang dari kampung.
Di depan Tunjungan Plaza bis berhenti. Sebagian besar penumpang turun, termasuk perempuan yang ada di sampingku. Akhirnya aku ikut turun juga. Aku ikuti saja orang-orang yang berjalan di depanku. Akhirnya aku sampai di dalam dan telah memilih-milih baju perempuan.
Seorang perempuan berseragam menghampiriku dan membantuku memilih-milih baju.
”bajunya untuk siapa mas” tanya perempuan itu.
”hari ini teman saya ulang tahun. Kulitnya sedikit lebih putih dari kulit saya. Dia pake jilbab. Jadi saya harus belikan baju lengan panjang”
”tingginya seberapa mas”
”kurang lebih setinggi saya. Badannya ramping”
Setelah membayar di kasir aku bermaksud untuk naik ke lantai enam, tetapi kubatalkan karena suara-suara dari masjid mulai terdengar. Jika bukan hari jum’at mungkin aku bisa sempatkan untuk nonton film dulu. Aku berjalan keluar dengan agak terburu-buru.
Di pintu keluar aku bertemu kembali dengan perempuan yang tadi duduk di sebelahku. Aku tersenyum dan ia membalasnya. Kali ini dadanya menganggu mataku, juga menganggu leherku. Membuatku tak berkedip dan tak juga mengalihkan pandangan. Ada perasaan risih dan nafsu, juga malu ketika perempuan itu tahu aku terus menatapnya. Menatap ke arah dadanya. Kudengar lagi suara-suara dari masjid. Aku mengalihkan pandangan. Berjalan mencari sumber suara yang paling dekat.
Sesampainya di masjid aku tidak langsung masuk kedalam. Aku memilih bersandar di tiang besar tidak jauh dari pintu masuk. Aku teringat kembali milikku yang hilang tadi malam. Menyesali keteledoranku tadi malam. Jika saja aku tidak tidur pasti milikku itu kini masih kugenggam.
”ada apa anak muda” seorang laki-laki yang memakai kopiah haji mendekatiku. Rupanya ia melihatku melamun.
”tidak baik melamun di masjid” kata laki-laki itu. Kemudian ia menyuruhku berwudhu dan sesudah itu ia memintaku untuk melakukan sholat sunah.
”jika tidak terburu-buru, ba’da sholat jum’at kita bisa bicara” kata laki-laki itu.
Sebenarnya aku tidak bermaksud menunggu laki-laki yang memakai kopiah haji itu, tetapi karena aku tidak juga meninggalkan masjid setelah selesai sholat jum’at laki-laki itu beranggapan aku menunggunya. Ia menemuiku dan menceritakan cerita-cerita yang pernah kudengar dari guru agama di sekolah. Sebenarnya aku bermaksud untuk bisa numpang tiduir siang di masjid. Sepertinya keinginanku tidur siang batal. Laki-laki itu mengira aku perlu bantuan sehingga ia terus berada di sampingku dengan cerita-cerita yang pernah kudengar sebelumnya.
Karena aku bosan mendengarkan cerita yang itu-itu juga akhirnya aku menceritakan tentang milikku yang hilang tadi malam. Rupanya ia serius sekali mendengarkannya. Tak sekalipun ia berusaha memotong ceritaku. Aku tahu ia tidak sedang berpura-pura mendengarkan. Setelah aku selesai bercerita ia mentakan sesuatu yang juga sering kudengar sebelumnya.
”tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Semua ada yang mengatur. Kita manusia hanya bisa berusaha. Keputusan akhir ada di tangan Allah SWT. Jika Dia menghendaki sesuatu itu menjadi milikmu ia akan menjadi milikmu. Tidak ada yang sulit bagiNya. Berdoalah kepadaNya. Dia akan memberikan yang terbaik”
Ternyata laki-laki itu tidak benar-benar mendengarkan ceritaku, atau mungkin ia mengalami masalah untuk memahami sesuatu. Ia tidak benar-benar mengerti apa yang telah aku ceritakan padanya. Dengan berlagak terburu-buru aku mengatakan kepada laki-laki itu bahwa aku harus segera pergi. Aku pergi menghilangkan kekesalanku pada laki-laki itu. Kekesalan pada diriku sendiri yang dengan mudah menceritakan sesuatu yang belum tentu semua orang bisa paham.
Menjelang magrib aku telah sampai di mulut gang sempit tempat tadi pagi aku sarapan. Dua orang yang tadi menyuruhku pergi ke Alas Purwo masih berada di warung itu. Mereka memanggilku dan menanyakan apakah aku telah pergi ke Alas Purwo.
”terlalu jauh pak” kataku
Kemudian mereka menawarkan diri mengantarkanku ke orang pintar. Mereka tidak meminta bayaran. Mereka hanya minta dibayarin makan malam dan ongkos taksi.
”kita bisa pergi malam ini. Lebih cepat lebih baik”
Sekitar jam tujuh kami berangkat ke rumah orang pintar. Kira-kira satu jam kemudian kami telah sampai di depan sebuah rumah, di komplek perumahan elit. Pintu gerbangnya dijaga oleh satpam dan anjing besar. Kami masuk ke dalam rumah dan disambut oleh seorang perempuan separuh baya. Perempuan itu mempersilahkan kami duduk. Kemudian ia memperkenalkan diri. Aku tidak banyak berbicara. Dua orang laki-laki yang mengantarku saling bergantian berbicara kepada perempuan itu. Dari cara mereka berbicara, sepertinya mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
Kemudian tibalah akhirnya perempuan itu menanyakan sesuatu yang menganggu pikiranku. Aku bingung bagaimana mengatakannya. Aku tidak ingin mengatakannya sendiri. Aku tadi berharap bahwa dua orang laki-laki yang mengantarku untuk mewakili berbicara, karena aku sudah menceritakan semuanya kepada dua orang itu. Tetapi dari dua orang itu tidak ada tanda-tanda untuk membantuku berbicara, bahkan salah seorang diantara mereka memberi isyarat kepadaku untuk segera berbicara.
”Saya kehilangan kata-kata. Hari ini teman saya ulang tahun. Saya ingin menemukan kembali kata-kata itu” kataku.
Perempuan itu diam menungguku melanjutkan, tetapi aku tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya ingin kata-kata yang kugengam tadi malam kembali. Perempuan itu masih diam, menungguku.
”kata-kata itu milik saya” kataku lagi.
Perempuan itu menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskanya perlahan.
”kata tidak pernah hilang” katanya.
”kata tidak pernah dimiliki oleh siapapun”
Perempuan itu diam sesaat. Perempuan itu sangat berhati-hati dalam mengucapkan kata-katanya. Setiap selesai mengucapkan satu kalimat ia selalu diam beberapa saat.
”kata tidak lagi menjadi penting ketika jiwa bersatu”
”ketika hati saling terpaut, kata-kata tidak lagi diperlukan”
”kata hanyalah sebuah awal”
Kemudian ia diam dengan waktu yang lebih lama dari sebelumnya
”kamu telah melampaui kata-kata, kamu tidak lagi memerlukan kata-kata”
”tindakan melebihi kata-kata. Pikiran lebih dalam dari kata-kata. Senyuman lebih agung dari kata-kata. Bahkan tatapan matapun jauh lebih berarti dari kata-kata. Kamu tidak pernah kehilangan kata-kata. Dan kalaupun hilang, biarkan saja kata-kata itu hilang. Karena kamu memiliki sesuatu yang lebih dari kata-kata”