Subscribe

Powered By

FLIGHT SUMMER

Minggu, 12 Oktober 2008

MENCARI SESUATU YANG HILANG

Terdengar bunyi letusan. Tepat ketika aku sedang berada di kolong tempat tidur mencari sesuatu yang mungkin terjatuh tadi malam. Sesuatu itu telah kugenggam tadi malam. Juga telah kusimpan. Aku ingat aku telah menyimpannya. Pagi ketika aku terjaga sesuatu itu menghilang. Aku mencarinya di bawah kolong tempat tidurku. Bunyi letusan itu mengejutkanku. Membuat kepalaku terantuk ranjang. Kuraba bagian kepalaku yang terasa sakit. Tidak ada darah. Hanya rasa sakit, tak lama lagi pasti akan muncul benjolan.
Aku masih dibawah kolong tempat tidur. Mencari milikku yang telah kugengam tadi malam. Suara kakakku mengejutkanku, menanyakan apa yang sedang kucari. Aku tidak mendengar langkah kakinya menaiki tangga. Aku juga tidak mendengar ketika ia membuka pintu kamarku. Telingaku menjadi tuli karena aku mencari sesuatu yang tadi malam telah kupegang. Kepalaku juga telah terantuk untuk kedua kalinya gara-gara aku mencari sesuatu yang hilang tadi malam.
Setelah sekian kali aku mencari di kolong tempat tidur itu dan tak juga ketemu. Aku menjadi ragu. Benarkah ia jatuh tadi malam. Mungkinkah ia menghilang melalui jendela dan kini entah berada dimana. Aku harus sudahi pencarian di kolong tempat tidur. Jika kuteruskan mungkin akan ada lebih dari dua benjolan di kepalaku. Aku mandi dan kemudian pergi. Berharap kutemukan milikku di suatu tempat.
Aku mulai dari gang-gang sempit, becek dan sedikit bau. Aroma masakan tercium dari rumah-rumah yang kulalui. Para ibu pasti sedang mempersiapkan sarapan buat anaknya yang sekolah dan suaminya yang akan berangkat kerja.
Di sebuah warung di mulut gang aku berhenti. Memesan teh hangat dan nasi pecel. Dua orang laki-laki telah ada di situ. Di hadapan mereka dua piring bekas nasi pecel. Secara tak sengaja mata kami beradu. Aku tersenyum. Demikian pula dua orang laki-laki itu. Mereka tersenyum kepadaku.
Tak lama kemudian kami telah terlibat pembicaraan yang sama-sama membuat kami nyaman. Tanpa sadar kuceritakan tentang sesuatu yang menganggu hatiku. Tentang milikku yang tiba-tiba hilang setelah aku yakin telah memegangnya. Dua orang itu serius memperhatikan setiap kata yang kuucapkan. Dan akhirnya dengan sadar kuceritakan semua tanda yang pernah kuterima. Tentang sebuah simbol yang tiba-tiba muncul dalam tidurku. Tentang sebuah keyakinan dan keinginan yang kuat. Sebegitu kuatnya sehingga aku tak sanggup lagi memikulnya sendirian.
Mereka mengatakan ada hutan di daerah selatan. Mereka menyebutnya Alas Purwo. Mereka menyuruhku untuk pergi ke sana. ”dalam kesendirian semua pertanyaan akan terjawab” kata mereka. Aku tidak mempercayai hal itu. Atau lebih tepatnya aku tidak ingin mempercayainya karena aku tidak ingin pergi terlalu jauh. Aku katakan kepada mereka bahwa tidak mungkin dalam waktu satu malam milikku telah berada di tempat yang sangat jauh. ”ia tidak berjalan. Ia pergi bersama angin” kata mereka.
Aku bersiap-siap untuk meninggalkan warung itu. Mereka meminta waktuku beberapa menit dan mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa memegangnya. ”bukan begitu cara untuk memilikinya” kata mereka.
Kutinggalkan dua orang itu. Aku berjalan di trotoar. Udara terasa pengap, bau asap, comberan. Teriakan para kernet. Bunyi klakson mobil yang terus berbunyi, seolah-olah dirinya orang yang paling penting yang harus segera diberi jalan. Kota besar memang selalu seperti ini. Menyesakkan dan sedikit memuakkan. Tak peduli pagi, siang atau malam.
Aku berdiri di halte, seperti orang-orang yang lain. Ketika orang-orang itu naik bis kota, aku juga ikut naik. Di dalam bis hampir semua kursi telah terisi. Aku bersama orang-orang yang tadi telah berdiri di halte, kini harus terus berdiri di dalam bis kota. Di halte kami mencium aroma comberan, di dalam bis kota kami mencium aroma keringat dan kejahatan para tukang copet. Beberapa saat kemudian seseorang di dekatku berteriak. Mobil berhenti. Orang itu turun dan aku mengantikan tempat duduknya. Di sampingku seorang perempuan. Ia memakai kaos ketat berwarna kuning. Dadanya besar. Sangat besar bahkan. Ketika aku duduk ia tersenyum kepadaku dan aku membalasnya. Sepertinya ia bisa menjadi perempuan yang menarik jika berada ditangan yang tepat, atau jika ia tahu bagaimana membuat dirinya menarik. Barangkali ia pikir dengan memakai kaos ketat ia telah cukup menarik. Sepertinya ia baru datang dari kampung.
Di depan Tunjungan Plaza bis berhenti. Sebagian besar penumpang turun, termasuk perempuan yang ada di sampingku. Akhirnya aku ikut turun juga. Aku ikuti saja orang-orang yang berjalan di depanku. Akhirnya aku sampai di dalam dan telah memilih-milih baju perempuan.
Seorang perempuan berseragam menghampiriku dan membantuku memilih-milih baju.
”bajunya untuk siapa mas” tanya perempuan itu.
”hari ini teman saya ulang tahun. Kulitnya sedikit lebih putih dari kulit saya. Dia pake jilbab. Jadi saya harus belikan baju lengan panjang”
”tingginya seberapa mas”
”kurang lebih setinggi saya. Badannya ramping”
Setelah membayar di kasir aku bermaksud untuk naik ke lantai enam, tetapi kubatalkan karena suara-suara dari masjid mulai terdengar. Jika bukan hari jum’at mungkin aku bisa sempatkan untuk nonton film dulu. Aku berjalan keluar dengan agak terburu-buru.
Di pintu keluar aku bertemu kembali dengan perempuan yang tadi duduk di sebelahku. Aku tersenyum dan ia membalasnya. Kali ini dadanya menganggu mataku, juga menganggu leherku. Membuatku tak berkedip dan tak juga mengalihkan pandangan. Ada perasaan risih dan nafsu, juga malu ketika perempuan itu tahu aku terus menatapnya. Menatap ke arah dadanya. Kudengar lagi suara-suara dari masjid. Aku mengalihkan pandangan. Berjalan mencari sumber suara yang paling dekat.
Sesampainya di masjid aku tidak langsung masuk kedalam. Aku memilih bersandar di tiang besar tidak jauh dari pintu masuk. Aku teringat kembali milikku yang hilang tadi malam. Menyesali keteledoranku tadi malam. Jika saja aku tidak tidur pasti milikku itu kini masih kugenggam.
”ada apa anak muda” seorang laki-laki yang memakai kopiah haji mendekatiku. Rupanya ia melihatku melamun.
”tidak baik melamun di masjid” kata laki-laki itu. Kemudian ia menyuruhku berwudhu dan sesudah itu ia memintaku untuk melakukan sholat sunah.
”jika tidak terburu-buru, ba’da sholat jum’at kita bisa bicara” kata laki-laki itu.
Sebenarnya aku tidak bermaksud menunggu laki-laki yang memakai kopiah haji itu, tetapi karena aku tidak juga meninggalkan masjid setelah selesai sholat jum’at laki-laki itu beranggapan aku menunggunya. Ia menemuiku dan menceritakan cerita-cerita yang pernah kudengar dari guru agama di sekolah. Sebenarnya aku bermaksud untuk bisa numpang tiduir siang di masjid. Sepertinya keinginanku tidur siang batal. Laki-laki itu mengira aku perlu bantuan sehingga ia terus berada di sampingku dengan cerita-cerita yang pernah kudengar sebelumnya.
Karena aku bosan mendengarkan cerita yang itu-itu juga akhirnya aku menceritakan tentang milikku yang hilang tadi malam. Rupanya ia serius sekali mendengarkannya. Tak sekalipun ia berusaha memotong ceritaku. Aku tahu ia tidak sedang berpura-pura mendengarkan. Setelah aku selesai bercerita ia mentakan sesuatu yang juga sering kudengar sebelumnya.
”tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Semua ada yang mengatur. Kita manusia hanya bisa berusaha. Keputusan akhir ada di tangan Allah SWT. Jika Dia menghendaki sesuatu itu menjadi milikmu ia akan menjadi milikmu. Tidak ada yang sulit bagiNya. Berdoalah kepadaNya. Dia akan memberikan yang terbaik”
Ternyata laki-laki itu tidak benar-benar mendengarkan ceritaku, atau mungkin ia mengalami masalah untuk memahami sesuatu. Ia tidak benar-benar mengerti apa yang telah aku ceritakan padanya. Dengan berlagak terburu-buru aku mengatakan kepada laki-laki itu bahwa aku harus segera pergi. Aku pergi menghilangkan kekesalanku pada laki-laki itu. Kekesalan pada diriku sendiri yang dengan mudah menceritakan sesuatu yang belum tentu semua orang bisa paham.
Menjelang magrib aku telah sampai di mulut gang sempit tempat tadi pagi aku sarapan. Dua orang yang tadi menyuruhku pergi ke Alas Purwo masih berada di warung itu. Mereka memanggilku dan menanyakan apakah aku telah pergi ke Alas Purwo.
”terlalu jauh pak” kataku
Kemudian mereka menawarkan diri mengantarkanku ke orang pintar. Mereka tidak meminta bayaran. Mereka hanya minta dibayarin makan malam dan ongkos taksi.
”kita bisa pergi malam ini. Lebih cepat lebih baik”
Sekitar jam tujuh kami berangkat ke rumah orang pintar. Kira-kira satu jam kemudian kami telah sampai di depan sebuah rumah, di komplek perumahan elit. Pintu gerbangnya dijaga oleh satpam dan anjing besar. Kami masuk ke dalam rumah dan disambut oleh seorang perempuan separuh baya. Perempuan itu mempersilahkan kami duduk. Kemudian ia memperkenalkan diri. Aku tidak banyak berbicara. Dua orang laki-laki yang mengantarku saling bergantian berbicara kepada perempuan itu. Dari cara mereka berbicara, sepertinya mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
Kemudian tibalah akhirnya perempuan itu menanyakan sesuatu yang menganggu pikiranku. Aku bingung bagaimana mengatakannya. Aku tidak ingin mengatakannya sendiri. Aku tadi berharap bahwa dua orang laki-laki yang mengantarku untuk mewakili berbicara, karena aku sudah menceritakan semuanya kepada dua orang itu. Tetapi dari dua orang itu tidak ada tanda-tanda untuk membantuku berbicara, bahkan salah seorang diantara mereka memberi isyarat kepadaku untuk segera berbicara.
”Saya kehilangan kata-kata. Hari ini teman saya ulang tahun. Saya ingin menemukan kembali kata-kata itu” kataku.
Perempuan itu diam menungguku melanjutkan, tetapi aku tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya ingin kata-kata yang kugengam tadi malam kembali. Perempuan itu masih diam, menungguku.
”kata-kata itu milik saya” kataku lagi.
Perempuan itu menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskanya perlahan.
”kata tidak pernah hilang” katanya.
”kata tidak pernah dimiliki oleh siapapun”
Perempuan itu diam sesaat. Perempuan itu sangat berhati-hati dalam mengucapkan kata-katanya. Setiap selesai mengucapkan satu kalimat ia selalu diam beberapa saat.
”kata tidak lagi menjadi penting ketika jiwa bersatu”
”ketika hati saling terpaut, kata-kata tidak lagi diperlukan”
”kata hanyalah sebuah awal”
Kemudian ia diam dengan waktu yang lebih lama dari sebelumnya
”kamu telah melampaui kata-kata, kamu tidak lagi memerlukan kata-kata”
”tindakan melebihi kata-kata. Pikiran lebih dalam dari kata-kata. Senyuman lebih agung dari kata-kata. Bahkan tatapan matapun jauh lebih berarti dari kata-kata. Kamu tidak pernah kehilangan kata-kata. Dan kalaupun hilang, biarkan saja kata-kata itu hilang. Karena kamu memiliki sesuatu yang lebih dari kata-kata”